Rabu, 06 Juli 2016

Happy Îd ul-Fitr, al-Mubarak 1437H



Happy Îd ul-Fitri, Happy Îd al-Mubarak, dear friends and all, to end the one-month fasting, with any enjoying activities to celebrate your happiness, dear friends .. such as visiting your parents and other members of larger families, like what does robusta coffee farmer family from Medalsari village, Pangkalan sub-district in Karawang district of W. Java, Indonesia, on the northern slope of Mount Sanggabuana. On Monday Mrs Adang (with checkered headscarf in the above image), along with her two kids were saying good bye before leaving to visit her parent to the neighbouring district.

Pak Adang however could not join the visit that may take a couple of days or more, because none tend their livestocks. He keeps working, the least, during these holidays, just to secure while feeding them with looking for forage in the surrounding border of the forest ..

You can see him on motobike in the picture, while his daughter already sitting in front of him, waiting for his wife as she greeted a relative before leaving. Another male relative who helped to take his son (not seen) as he drove them to nearest public transport stopping place at Cariu sub-district in Bogor, about 12 kilometer away from their hamlet of Tegaldeeng.

“We arrive at the destination only before nightfall,” Ms. Adang told me informing the long trip to her parent’s village of Leuwiliang in westernmost of Bogor district as they departed a quite while before noon. There is yet direct transport means in many remote areas in the country! They had to take several changing public transport means ..

These holidays also particularly mark quite a pause from coffee harvesting activities, particularly for those farmers who really want to improve the quality of coffee beans, as we have been proposing them with a fresh post-harvest framework, independently. Farmers ever since joining the wagon to pick coffee cherries carelessly have no more the urge for post-holiday coffee harvest as there is no even remaining cherries.

The decision to pick the cherries as quick as possible, regardless the ripeness or unripeness, the color, etc., has ended up into indeed bad coffee you would not believe as it may taste like sewer water ..  yet, for those farmers, quick money is all they need before the on-going Idul Fitri festivities, notoriously known for abundance if not thriftlessness .. as you may see also during Christmas .. Hope this is not the hardest part to independently improve #coffee #quality for your enjoyment .. **

Rabu, 16 Desember 2015

Palintang Microlot Coffee from West Java, Indonesia

Many have asked us about our newly presented coffee, the plants of which are cultivated at Palintang hamlet in Bandung, W. Java of Indonesia. What is the taste? Apparently many of those interested and coffee lovers in the country find it curious about the "traceability" of Palintang coffee. This coffee seems to appear from nowhere.

You may not believe but some really do that the northern Bandung mountainous stretches were the most original locations in which the Dutch colonies during eighteenth century grew coffee plants in the country, and later the coffee of which excelled throughout the world. If it is really so then this Palintang java is among the most newly emerged coffees from the original Java (real Java Island) coffee. And yet what is the taste character?

Sabtu, 05 Desember 2015

Kopi Palintang

KAMI sudah ditanya oleh banyak pihak: Apa itu sebenarnya kopi Palintang? Rupanya banyak peminat dan pencinta kopi mulai penasaran tentang transparansi dari kopi ini. Ini memang “janji” kami selama ini. Yg paling penting kiranya adalah temuan kami atas karakter utama dari citarasa kopi Palintang. Ada tiga karakter citarasa kopi yg kami temukan dari tiga jenis pengelolaan pasca-panen, yi.: proses natural/kering, proses “madu” (honey) dan proses “basah” (full washed).

Proses natural telah membantu kami untuk upaya mendefinisikan apa citarasa utama dari kopi ini. Kami mencium keharuman pisang selai tapi setelah kopi beristirahat lebih lama tercium pula citarasa nangka, tapi juga gula merah (gulali), vanilla, kacang-kacangan, plus juga citarasa jeruk segar. Proses “madu” rupanya memperlembut sensasi rasa dari kopi Palintang ini. Terus-terang saya suka dg sensasi lembut dari hasil proses madu yang segar ini. Pisang selai, nangka, vanilla, kacang tetap berasa citarasanya dari kopi proses madu ini tapi dalam dimensi yang lebih halus.

Senin, 28 Oktober 2013

Cobalah Kopi 'Baru': Java Taman Dadar

Kalau tidak "labor intensive",
kopi ini tak akan selaziiz kenyataannya.
Tks +nanang trianggana
kiriman foto ini.
KALAU Anda sekalian bertanya pada kami: Apakah ada “barang baru”? Yak, inilah kopi yg “baru” saja datang itu, grès, new arrival, yang kami coba tawarkan utk teman2 sekalian. Rasanya bagaimana? Pasti merangsang selera .. : Legenda di balik bayang2 warisan sejarah pulau Jawa: JAVA TAMAN DADAR.

Ada aroma-kering: kayu atau akar-akaran yg berasa manis/wangi sekaligus kacang gurih berasa coklat [asyik, dan bikin penasaran ga?]; ada juga yg menengarai mengandung wangi dari ubi jalar; Aroma-basah: saputan uap rasa segar, coklat kuat; Kesegaran-nya bagaimana? Benar bahwa terkandung rasa segar nan asam, meskipun banyak kajian menyebut rasa asam itu bertingkat rendah, tapi mungkin untuk lidah publik Indonesia pun sudah akan bisa dirasakan lumayan kuat. Tapi ini bukanlah ‘kesegaran’ yg tajam sehingga bisa mengganggu  rongga mulut Anda, sekalipun rasa segar itu merata bersamaan dengan  ketebalan emulsi kopi ini (body, viscosity). Anda mungkin akan merasakan betapa kopi ini bagai memenuhi seluruh rongga mulut.

Minggu, 25 Agustus 2013

Kopi Lanang, Kopi Jomblo

"Kopi Lanang" dlm bentuk kopi beras
dari kebun Rengganis, Jember, Jatim
BELUM LAMA INI seorang kawan bertanya, apakah kopi lanang dpt dibudidayakan secara khusus? Tapi, tampaknya, kawan penanya ini sebenarnya sekaligus juga kurang mengenal apa itu “kopi lanang” .. Kami berniat menawarkan suatu tanggapan atas pertanyaan ini tapi sekaligus juga membuka diskusi kalau ada yg tertarik membahasnya. Silakan ..

Tampaknya perlu kita tanggapi terlebih dahulu latar belakang pertanyaan tt kopi lanang (peaberry) ini. Sebenarnya kami merasa ini pertanyaan agak 'kurang umum' dlm pengertian kami tak sangka pertanyaan ini muncul, tapi sekaligus kami sadari jangan2 kami keliru mengira krn kurang pengetahuan atau kurang keyakinan, karena jangan2 memang suatu ketika kopi lanang dpt dibudidayakan yak .. Selama ini kami pikir dan kami anggap begitu saja benar bahwa timbulnya kopi lanang merupakan fenomen alamiah shgg utk merekayasa secara khusus tentunya diperlukan teknologi genetik yg sangat canggih, di luar kemampuan orang awam.

Senin, 19 Agustus 2013

Mutu Minuman Kopi

Ini foto yg kami jepret baru2 ini:
Kopi arabika berjuluk tentatif
Java Sunda Papandayan.
Kopi ini nyaris kami kelola sendiri
setelah sampai
pada petani pengumpul ..
Anda mungkin akan heran:
Citarasanya segar spt sirup,
acidity asam jawa (tamarind),
buah anggur & coklat.
MUTU kopi bergantung pada berbagai faktor. Apakah kopi itu masih segar, alias baru saja keluar dari penyangraian, sudah berapa lama jarak waktu antara kopi yang berada di tangan Anda saat aktual dan saat, hari kapan disangrai.

 Dan yang sifatnya lebih “imperatif” lagi adalah kapan digiling, kapan biji-biji kopi tersangrai itu dijadikan bubuk kopi. Mengapa “imperatif”? Karena memang pada saat digiling itulah biji-biji kopi melepaskan, menghambur, menyebarkan aroma (kering)-nya. Sebelum digiling sebagian besar komponen dari aroma dan semua kandungan lain dari kopi, katakanlah, masih tersimpan di dalam butir2 biji kopi tersangrai.

Kalau sudah terlalu lama sejak digiling atau dihancurkan jadi bubuk, maka aroma kopi sudah menyebar, sudah sirna, sudah terbang di udara. Seperti dipraktikkan di kebanyakan pasar2 kecamatan terdekat dr areal budidaya kopi, sangat disayangkan, bahwa aroma kering kopi itu justru menyebar hanya di tempat penggilingan, dan bukan di tempat di mana orang hanya mau menikmati kopi. Kalau kopi yang mau kita nikmati itu memang berasal dari biji-biji kopi yang bermutu (ditentukan oleh mutu budidaya dan panennya, pemrosesan serta pengolahannya), tentunya jelas bahwa memang kopi-kopi semacam itulah yang lebih kita harapkan.

Minggu, 11 Agustus 2013

Mana cara seduh kopi paling cocok untuk orang super-sibuk atau ogah repot?

Memilih alat seduh kopi untuk keperluan menikmati kopi di rumah, bagaimana pun pada akhirnya memang perlu memperhatikan beberapa hal: kesukaan (kepraktisan? selera?), fitur dari alat ybs, mèrek, biaya (harga). Nah, ada seorang kawan yang hari-harinya sangat sibuk, seolah-olah dari pagi sampai petang penuh dengan acara. Berhenti sejenak buat bikin kopi sendiri di rumah pun dirasakan sangat rugi tapi tetap mau menikmati di rumah. Pertanyaannya: Apa atau mana cara seduh kopi dan peralatannya yang sesuai untuk dia ini? Apakah mesin seduh kopi espresso cocok untuknya? Berikut ini surat yang kami layangkan untuk kawan kita yang ogah rempong itu ..

Minggu, 28 Juli 2013

Kopi, Si Anggur Islam

Teko kopi Arab
Kebanyakan peminum kopi dewasa ini tidak lagi sadar bahwa kopi sesungguhnya adalah warisan dari tarekat-tarekat Sufi yang berkembang di jazirah Arab bagian selatan. Kita kenang jasa anggota tarekat Shadhiliyya karena telah menyebarluaskan kebiasaan minum kopi di seluruh jagad Islam di antara abad 6-8 Hijriah (abad 13-15 Masehi) [13 (596H) dan 15 Masehi (802H)] atau akhir abad ke-6 sd 8 Hijriah. Semula ada seorang pemuka tarekat Syadhiliyyah berkenalan dengan keberadaan kebiasaan minum kopi di Etiopia. Tanaman kopi di sana dikenal sebagai semak-semak yang tumbuh di dataran tinggi, begitu pula buah-buahnya dan minuman yang dibuat dari biji-biji buah itu disebut dengan nama ‘bun’.

Sejarawan memperkirakan sufi yang dimaksud itu adalah Abu’l-Hasan ‘Ali ibn Umar. Ia pernah tinggal di istana Sadaddin II, seorang sultan di Etiopia Selatan. `Ali ibn Umar kemudian kembali ke Yaman dengan membawa pengetahuan bahwa buah-buah kopi itu tidak hanya bisa dimakan tapi juga memiliki khasiat bisa bikin orang melèk, melawan kantuk. Sampai hari ini `Ali ibn Umar dimeteraikan jadi pelindung suci bagi petani kopi, pemilik kedai kopi dan para peminum kopi. Di Aljazair kopi sering disebut juga dengan kata “shadhiliyya” untuk menghormati `Ali ibn Umar.

Jumat, 21 Juni 2013

Kopi bukan sekedar si pembangun dari kantuk ..

Ini salah satu dampak dari sopir ngantuk. Minum kopi bisa
membantu mencegah kejadian fatal seperti kecelakaan
lalu-lintas. Ini sumber foto.
Menurut Organisasi Kopi Internasional sebanyak 116.428.000 karung kopi yang masing-masing beratnya mencapai 60 kilogram diekspor dari negeri-negeri penghasil kopi, seperti Indonesia, pada tahun 2004. Kopi menjadi komoditi kedua yang paling luas tersebar, terkonsumsi, setelah minyak bumi. Tetapi kebanyakan orang jarang sekali mengenal dan dapat mencicip serta meminum kopi yang enak, apalagi yang bermutu sampai ke tingkat “excellent”. 

Bahkan sekarang ini ketika mulai meluas apa yang disebut-sebut dengan “kopi spesialti” (specialty coffee) selama satu atau dua dekade terakhir (di Indonesia jelas lebih lambat lagi), pada umumnya masih rendah kualitas dari kopi yang diseduh orang di mana pun.

Rabu, 13 Februari 2013

UJI CITARASA KOPI: SIAPA TAKUT?

Untuk teman-teman di @CafeSarongge:
Salam kebebasan berasa (dan tentunya juga mikir dikit) ..

Singkatnya kami bangga mengajak teman2 utk cicip, cecap, cerap & minum kopi (tak harus yg gila kopi atau kecanduan kopi) utk melihat lebih jauh bagaimana berbagai citarasa kopi dpt ‘ditangkap indera manusia’. Gampangnya: Mana yg paling enak? Mengapa? Mari kita temukan jawabnya bersama. Banyak orang sudah mencoba memasuki relung2 rasa dan aroma kopi, dan kemudian menyingkapkannya utk orang lain dg kata2 serba canggih sampai kita kagak ngarti, tapi apalah artinya semua itu jika kita sendiri tak merasakannya. Ketika kita dpt merasakan “keaslian” dari kopi2 itu, tentu kita juga dpt menilainya dan kemudian memilihnya. Kalau masih skeptis juga, ya gapapa, silakan seperti biasanya minum sembarangan kopi, tapi ingat kopi yg Anda minum menentukan siapa diri Anda. :) You are what you drink.

Sabtu, 19 Januari 2013

Mengapa Petani Ogah Petik Buah Kopi Merah?



Mu'arif, petani kopi dari Jember, menjelaskan kepada Anda sekalian mengapa para petani kopi mencampuradukkan antara buah-buah kopi merah matang dan yang masih hijau. Petani merasa rugi jika hanya memetik kopi matang tanpa ada tambahan penghargaan pada jerih payah tenaga kerja mereka. Jika Anda ingin minum kopi berasa mantap, kecuali teknik seduh yang oke, memang tak ada cara lain kecuali meminum kopi yang berasal hanya dari buah-buah kopi matang berwarna merah saja. Jika tidak, maka seperti mangga mengkal, kopi yang Anda minum tak lain adalah "Kopi Mengkal" ..

Jumat, 04 Januari 2013

Abandoned Coffee Plants in W. Java


Bourbon or Catuai 
in Garut of WJava?
We discover our quite close farmer-friend Asep Sukatani who claims himself as vegetable grower in fact is also a part of a community who has Arabica coffee plants in their plots of land. We visited in December and we find that in the past they had even more the much appraised coffee varietal of the old typica.

However we will have to re-grow it because all existing coffee plants among the vegetable fields, we suspect, are of the new ones, i.e. the coffee varietals developed in Jember of East Java. Local government’s office overseeing commodity plants distribute the seedling freely from time to time for the farmers to grow.

Selasa, 06 November 2012

Brosur Mengenal Pelayanan Standar Koffie Goenoeng Fdt


Inilah brosur dijital yang kami unggah di blog ini untuk membantu Anda mendapatkan satu penampilan sekali baca sekali pegang tentang pelayanan standar kami di Koffie Goenoeng Fairdirectrade. Untuk yang ingin mendapatkan file dijital secara lebih utuh dapat mengunduhnya di scribd.com dengan link berikut ini: http://www.scribd.com/doc/112215750/Brosur-KoffieGoenoeng-Id

Brosur ini bukan pertama kalinya kami buka kepada masyarakat luas, namun yang kali ini kami sertakan versi Indonesia sepenuhnya .. Kami pertama kali membuka brosur ini pada acara pameran bahan-bahan makanan organik yang dikelola oleh Aliansi Organis Indonesia di Bogor 2012 beberapa saat yang lalu ..

Sabtu, 31 Desember 2011

‘Geografi‘ Citarasa Tembakau di balik Pahit Manis Kopi Arabika Lembah Sumbing-Sindoro

Judul tulisan bukan terutama karena mau menyindir kehadiran kopi arabika di lembah kedua gunung berdampingan di Jawa Tengah ini di balik ‘kisruh masalah politik ekonomi budidaya tembakau’, tapi barangkali memang tak keliru tengara citarasa kopi berkelas internasional dari kawasan ini jika Anda cecap sendiri.

Penasaran bagaimana rasanya? Ini percobaan identifikasi yang kami setelah mencicip pertama kalinya (tadi pagi):

Kamis, 03 November 2011

Dari Yuyun: Pernah coba kopi yang asam & akibatnya jadi buang gas terus ..

Ada tanggapan dari seorang peminum kopi kami. Berikut ini pesannya yang kemudian kami tanggapi dengan tantangan lebih lanjut tentang latarbelakang citarasa kopi, kandungan acid/asam dalam kopi, beda kopi arabika & robusta, gejala buang gas setelah minum kopi asam dan kemungkinan pencegahannya tapi sekaligus tetap dapat menikmati kekayaan citarasa kopi arabika ..
Saya sudah coba yang Manggarai. Ternyata tidak terlalu asam. Tadinya saya khawatir akan sakit perut karena pernah coba kopi yang asam dan akibatnya jadi buang gas terus. Nanti kalo perlu lagi saya pesan lewat akun ini ya. Thanks. Yuyun
Perhatian kami sesungguhnya tertuju pada gejala buang gas terus itu. Baru kali ini kami mendengar keluhan ini dari para peminum kopi. Biasanya orang lebih mengeluh masalah lambung berasa tak enak karena anggapan bahwa minum kopi yang asam akan merangsang munculnya asam lambung.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Tongkringan Tebet Timur Raya: Tersedia Kopi Robusta Top dari Jember


Lihat Tongkringan Tebet Timur Raya di peta yang lebih besar

Ini acuan peta dari posisi angkringan Tongkringan di Tebet Timur Dalam Raya, petang hari sampai tengah malam .. mas Anton setia melayani Anda. Luar biasa ketekunan kakak kita yg satu ini ..

Jumat, 03 Juni 2011

New Arrival: Sumatra Classic Takengon Pondok Gajah the fruttiest fragrance and aroma ..

This posting has most partly appeared in our Facebook page. But now as we find help from our supplier-friend in the coffee cultivation area, we then change the nearly correct technical name of the coffee.

We held coffee tasting test early April. Here is the cuppers’ preference.

We get six coffees from different ecosystem background even though in the areas of Sumatra Aceh Takengon, yet the result is astonishing. There were three coffees from Takengon, Flores Manggarai, Sumatra Parapat & West Java Lembang Luwak.

What are the cups?

Minggu, 29 Mei 2011

Kepada para pemesan

Sekarang telah tersedia kopi arabika: SUMATRA CLASSIC TAKENGON PONDOK GAJAH (very syrup-fruity, balance). Harga Rp50000/250gram (+ongkos kirim). Lih: cupping account.

Anda bisa kirim pesan lewat blog ini atau back-up ke akun twitter @KoffieGoenoeng atau facebook kami Koffie Goenoeng Fairtrade atau email kami: kopigunung@gmail.com.

Kirimkan duit ke rekening berikut: Bank CIMB NIAGA cab. Kramat Jati, a/n Sri Widiastuti, NoRek: 241-01-04498-18-6. Setelah konfirm duit sampai, kami akan segera sangrai/giling.

Mohon ditetapkan bentuknya: roasted beans (tak digiling) atau ground roasted beans (sudah digiling). Untuk coffee house/warkop kami anjurkan agar menggiling sendiri supaya tetap segar. Konsumen Anda lebih puas.

Dapat diambil sendiri di roasting venue kami: Jl. Tebet Timur Dalam VI C/17, Jakarta 12320; tlp: 021-8304153.

Kalau mau dikirimkan per pos atau jasa kirim lain, jangan lupa alamat darat Anda.

Salam kopi jos maknyos ..
Koffie Goenoeng Fdt

Jumat, 21 Januari 2011

Dampak global minum kopi: Dilarang minum kopi kalau sedang stress nguber setoran?

Jika ada dua orang laki-laki yang bekerja sama atau melakukan negosiasi, minum kopi justru kurang bagus, karena kinerja dan kepercayaan diri mereka justru jadi berkurang. Sebaliknya, untuk perempuan justru berdampak baik.

Ini pendapat dari Lindsay St. Claire, Robert C. Hayward and Peter J. Rogers yang memuat hasil penelitian mereka dalam bidang psikologi sosial terapan (Journal of Applied Social Psychology, Volume 40, Issue 12, pages 3106–3129, December 2010, baru saja terbit).

Para peneliti itu tak bisa memastikan persis apa penyebabnya. Tapi mereka menduga, ini ada kaitannya dengan perbedaan karakter antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki lebih condong berperilaku keras atau menanggapi dengan respons ‘melarikan diri’. Sementara perempuan lebih condong ‘merawat dan berteman’.

Kamis, 20 Januari 2011

Mengapa kopi tersangrai tak perlu harus seketika digiling terlebih dahulu?

Rupanya masih tak sedikit warga masyarakat yang tak mengetahui apa alasan mengapa biji-biji kopi yang sudah disangrai tidak perlu seketika itu juga digiling jadi tepung. Kebanyakan orang tak sadar dan merasa tak memerlukan atau tak memiliki preferensi pada minuman (atau makanan) yang segar, bukan kemasan, sedekat mungkin dengan keaslian alamnya.

Ya inilah keadaan masyarakat kita. Pengutamaan pada yang instan, gampang, tak repot sudah menjerumuskan kita semua pada ketaktahuan, jahil dalam ihwal mengurus, mengonsumsi atau menikmati kopi. Bahkan tampaknya kita semakin tak peduli pula pada dampak buruk dari semangat instan pada kesehatan.